Ditzzcill
- Reads 4,415
- Votes 457
- Parts 28
Shani Indira Natio terbiasa berdiri di depan.
Sebagai ketua OSIS, ia dikenal dingin, tegas, dan nyaris tak tersentuh. Dunia melihatnya sebagai sosok yang kuat-seseorang yang selalu tahu apa yang harus dilakukan dan tidak memberi ruang pada hal-hal di luar kendali.
Julian Christian Baskara-Tian-datang sebagai murid pindahan dengan cara yang hampir serupa. Irit bicara, cuek, dan memilih menjaga jarak. Di sekolah baru, ia tidak berusaha dikenali. Baginya, cukup menjalani hari tanpa perlu terlibat lebih jauh.
Keduanya hidup dalam dunia yang sejajar.
Sama-sama memikul ekspektasi keluarga. Sama-sama belajar bertahan dengan caranya sendiri. Namun tidak pernah benar-benar saling bersentuhan-hingga sebuah pertemuan sederhana membuat jarak itu perlahan menyempit.
Tidak ada cinta pada pandangan pertama.
Tidak ada janji yang diucapkan terlalu dini.
Hanya percakapan seperlunya, kebersamaan yang tumbuh pelan, dan kehadiran orang-orang di sekitar mereka-Adel dan Zean-yang tanpa sadar menjadi penyeimbang di antara diam dan jarak.
Ini bukan cerita tentang perasaan yang dipaksakan.
Melainkan tentang waktu, tentang hati yang belajar terbuka, dan tentang dua orang yang akhirnya menyadari bahwa tidak semua hal perlu dikejar.
Sebagian hanya perlu ditunggu-
hingga semesta mengizinkan.