Anggita_sakuntala
Di ambang usia 29, Bening Althaf merasa hidupnya sedang dikepung dari segala penjuru. Karier, tuntutan pernikahan, hingga ekspektasi keluarga besar datang menagih jawaban secara bersamaan. Di mata Romo, sang ulama yang kaku, Bening hanyalah anak yang telah kehilangan arah, yang keberaniannya berdebat dianggap sebagai bentuk pembangkangan.
Padahal, hati Bening masih menyisakan retakan lama yang belum usai. Mulai dari tujuh tahun mencintai seorang kawan dalam diam, luka ditinggal menikah, hingga hubungan terakhirnya dengan pria beda etnis yang karam karena tembok restu yang terlalu tinggi.
Namun, Romo tidak mau tahu. Demi ambisi agar Bening tidak "dilangkahi" oleh sang adik yang sudah siap naik pelaminan, serangan bertubi-tubi dilancarkan. Tuduhan sebagai anak durhaka hingga ancaman untuk dibawa ke ustadz agar dirukyah menjadi makanan sehari-hari yang mencekik batinnya.
Di tengah tumpukan undangan pernikahan kawan yang kian menyesakkan dan tekanan untuk mengabdi pada yayasan keluarga yang ia hindari, Bening mulai bertanya pada dirinya sendiri "Memang aku sebegitu buruknya hingga tidak berhak menentukan bahagia sendiri?"