arcardinal
Di tahun 1925, terbentanglah Welaskandang, sebuah desa di pedalaman Indonesia yang pada suatu masa menjadi simbol kemakmuran. Hasil bumi berupa beras melimpah dan berkualitas tinggi membuat desa ini mendunia. Keharuman beras Welaskandang menjalar hingga berbagai kota, mengundang pembeli dari segala penjuru yang rela membayar harga fantastis untuk kelezatan yang diproduksi di sana.
Namun, di tengah kejayaan tersebut, terdapat seorang pemuda berusia 15 tahun bernama Aji. Berparas manis dengan tubuh atletis, perut sixpack, dan dada menonjol, Aji merupakan sosok yang mencuri perhatian di antara penduduk Welaskandang. Pekerjaannya sebagai tukang angkat berat di salah satu gudang beras menjadikan tubuhnya terbuka tanpa busana bagian atas, memancing mata penasaran dan pujian dari sekitarnya.
Meskipun begitu, Aji tetap bersikap cuek terhadap sorotan yang mengarah ke tubuhnya. Baginya, bekerja dan menjalankan tugasnya lebih penting daripada memperdulikan pandangan orang-orang di sekelilingnya. Pujian yang mengalir seperti air tidak mampu menyentuh perasaannya yang lebih fokus pada pekerjaan sehari-hari.
Sementara itu, desa Welaskandang tetap subur dan makmur, dihiasi oleh keberhasilan panennya yang melimpah. Namun, tak seorang pun tahu bahwa kisah Aji, pemuda yang terlihat sederhana di antara keindahan desa, akan menjadi titik awal dari perubahan besar yang akan mengubah takdir Welaskandang.