Triutamiyel21
- MGA BUMASA 88
- Mga Boto 45
- Mga Parte 3
Cerita pada Tahun 2017.
Angin pagi berhembus lembut melewati celah-celah rumah kayu tua itu. Di beranda kecil yang selalu berderit setiap kali diinjak, berdirilah seorang anak laki-laki bernama Jewo Malik Rahman. Usianya baru sembilan tahun, namun sorot matanya menyimpan kisah yang jauh lebih dewasa dari angka itu. Ia adalah seorang yatim piatu, dan satu-satunya keluarga yang ia miliki kini hanyalah seorang perempuan renta yang selalu tersenyum meski tubuhnya semakin rapuh: Embah Siti.
Setiap hari mereka menjalani hidup sederhana di sebuah kampung kecil yang tenang, di mana suara ayam jantan dan aroma tanah basah menjadi teman yang setia. Jewo tumbuh bukan dari kemewahan, melainkan dari kasih sayang Embah yang tidak pernah habis, serta dari langit biru yang seolah selalu menjaganya dari jauh.
Ramadhan tahun itu terasa berbeda. Ada sesuatu yang menggerakkan hati Jewo-sesuatu yang membuatnya ingin lebih memahami arti kehilangan, arti syukur, dan arti keluarga. Embah Siti sering berkata, "Gusti ora sare, Le. Selama kamu tetap baik, langit bakal njaga awakmu." Kalimat itu melekat dalam ingatan Jewo, menghangatkan setiap sudut hatinya.
Dan di bawah langit Ramadhan yang cerah itu, perjalanan kecil mereka dimulai-perjalanan yang mungkin sederhana, tapi penuh makna, tawa, dan doa yang tak pernah putus.
Langit tak pernah terasa seluas ini bagi Jewo.
Dan Ramadhan tak pernah terasa sedekat ini bagi Embah Siti.