raeinxx
- Reads 558
- Votes 106
- Parts 8
Anna telah terbiasa mendengar suara keputusasaan.
Sebagai petugas call center khusus krisis kesehatan mental, setiap malam ia menjadi tempat terakhir yang dihubungi orang-orang yang ingin menyerah pada hidup.
Ia sudah mendengar tangis, teriakan, bahkan keheningan yang menakutkan.
Tapi tidak ada yang pernah terasa seperti panggilan jam 9 malam itu.
Tidak ada suara.
Tidak ada kata.
Hanya napas pelan, gemetar, terputus, seolah seseorang sedang berjuang untuk tetap hidup di seberang sana.
Panggilan itu terputus sebelum Anna sempat berbicara lebih jauh.
Ia mengira itu hanya telepon iseng, sampai panggilan yang sama kembali masuk malam berikutnya.
Dan malam berikutnya.
Selalu pukul sembilan.
Selalu napas yang sama.
Di balik hening itu, ada seseorang yang ingin berbicara, tapi tidak mampu.
Dan tanpa Anna sadari, suara napas itu mulai tinggal di kepalanya, menjadi beban, menjadi misteri, menjadi sesuatu yang tidak bisa ia tinggalkan.
Lalu, pada malam keempat, suara itu akhirnya berbicara, hanya satu kalimat,
"Aku... tidak tahu bagaimana caranya bertahan."
Dan dari sanalah, dua manusia yang sama-sama terluka menemukan satu sama lain dalam cara yang paling sunyi dan paling jujur.
Anna mencoba menyelamatkan si penelepon misterius, sementara lelaki itu, Heeseung, hanya membutuhkan satu orang yang mau mendengarkan, walau dari balik ketakutan dan heningnya.
Mereka tidak pernah berjumpa.
Yang menghubungkan mereka hanyalah suara, keheningan, dan luka-luka yang selama ini tidak pernah dipahami siapa pun.
Tapi terkadang, hubungan paling kuat justru lahir dari dua hati yang hampir menyerah.
Dan Anna segera menyadari.
Panggilan itu bukan sekadar permintaan tolong.
Itu adalah hidup seseorang yang menggantung di ujung kata yang tidak pernah ia ucapkan.