virolechen
- LECTURAS 1,682
- Votos 195
- Partes 5
"MAMIHHH!!! AKU PERGI NGEGYM DULU, YA!"
Suara Leon menggema dari bawah tangga.
Di dapur, Indah Susanto yang sedang menyiapkan makan siang langsung menoleh. Ia berjalan cepat ke arah railing lantai dua.
"LEON! KAMU BELUM MAKAN!"
Terlambat.
Pintu depan sudah keburu tertutup keras. Leon memang begitu-nggak sabaran, keras kepala, dan merasa dunia bisa menunggu dia, tapi dia nggak pernah mau menunggu siapa pun.
Dengan hoodie hitam dan tas gym di bahu, Leon melangkah santai melewati garasi. Earphone terpasang, pandangannya fokus ke layar ponsel.
Ia tidak melihat ke depan.
BRUKKK!
Tubuhnya menghantam seseorang.
"A-aduh... sakit banget..." ringis Leon saat terjatuh di ubin garasi.
Tas gym-nya terlempar. Earphone copot.
Di depannya, seorang wanita ikut terduduk, tasnya terjatuh, isinya berhamburan.
Leon mengangkat kepala-dan membeku.
Rambut panjang terurai rapi, wajah dewasa dengan riasan tipis yang elegan, dan tatapan mata yang tajam meski terlihat sedikit terkejut.
"Oh my..." gumam wanita itu.
"L-loh... Tante Aralie??"
Abigail Rachelie Pattynama. Teman dekat mamahnya.
Wanita itu mencoba berdiri, tapi tubuhnya limbung. Tangannya refleks mencengkeram lengan Leon. Sentuhan itu terlalu lama untuk sekadar keseimbangan.
Tatapan Aralie berubah.
Ia menatap Leon dari jarak sangat dekat-rahangnya yang tegas, bahunya yang lebar, aroma maskulin yang samar.
"Leon...?" suaranya lebih pelan. Lebih dalam.
Bukan nada seorang tante yang menyapa anak kecil.
PLUK.
Tubuh Aralie melemas.
"EH TANTE! JANGAN PINGSAN DI SINI!" panik Leon, buru-buru menangkap tubuhnya.
Leon tidak sadar.
Detik ketika Aralie terjatuh dalam pelukannya-
bukan sekadar kecelakaan kecil.
Itu adalah awal.