ayuqanitaputriw
"Dengar, hidup tidak bergantung pada siapa yang lebih dulu mengungkapkan, tetapi tentang siapa yang lebih dulu membuktikan."
Hentakan Nara seketika membuat Arkan termenung, belum lagi tangan Nara yang kiri menggenggam kerah baju miliknya.
"Kenapa kau diam saja? Biasanya kau yang paling banyak mengoceh."
Arkan terus mengunci pandangannya pada Nara, kini dia tidak bisa mengatakan apapun padanya. Satu menit, tidak, dirinya bertengkar sangat lama dengan pikirannya. Saat Nara melepaskan genggamannya, dan hendak meninggalkan Arkan. Entah apa yang dia pikirkan, tangannya menahan lengan Nara.
"Maafkan aku.." bisiknya.
Nara tidak terlalu mendengarkan dan hendak melepaskan genggaman Arkan, namun tiba-tiba Arkan terduduk sambil menunduk.
"Apa yang kamu lakukan!"
Nadanya canggung, tetapi dipertegas, "maafkan aku."