theresree
Di Jakarta, Raisa terjebak dalam penjara rutinitas korporat di balik dinding kaca perkantoran Jalan Sudirman. Sebagai praktisi HR, ia belajar memetakan manusia, hingga sebuah frekuensi Discord membawanya ke jalanan berbatu Hebron. Di sana, Nadeem Natsheh, seorang barista Palestina yang menghitung udara kebebasan, mengajarkan bahwa identitas manusia bukanlah data yang bisa dihapus.
Akan tetapi, saat Operation Summer Camps mengunci Tepi Barat dan algoritma Red Wolf membedah perilaku warga, titik hijau Nadeem perlahan padam. Tergugah akan semangat perlawanan Yahya Sinwar, yang meski terluka parah dan di ambang maut, tetap melakukan perlawanan terakhir, serta tragedi Aysenur Ezgi Eygi, Nadeem tersedot ke lubang hitam administrative detention, ruang hampa hukum di mana manusia hanya menjadi angka tanpa nama.
Terinspirasi dari laporan mengerikan B'Tselem, Living Hell, novel ini membedah realitas kelam di balik jeruji besi Sayap Rakefet yang dikenal sadis. Di penjara Israel, Nadeem bertahan tengah kejahatan sistematis yang dirancang menghancurkan kemanusiaan. Raisa menyadari bahwa untuk menyelamatkan Nadeem, ia harus menghancurkan penjara beludru dalam dirinya.
Perjalanan nekat menuju perbatasan Yordania dimulai, membuktikan bahwa doa dan harapan adalah frekuensi yang tak mampu dipindai mesin mana pun.
Akankah mereka menemukan lazuardi di ujung lorong Hebron, ataukah sejarah akan menghapus nama mereka selamanya?