CAzmanP
- Reads 192
- Votes 16
- Parts 42
Muhammad Wada, bocah 13 tahun dari Belawan, hanya ingin sekolah seperti anak-anak lainnya.
Tapi hidup tidak menyambutnya dengan mudah.
Ibunya terbaring sakit, ayahnya tenggelam dalam diam, dan sekolah hanya jadi harapan di ujung utang.
Namun Wada tetap melangkah - meski dengan baju pinjaman dan sepatu lama - menuju gerbang sekolah.
Ketika pergaulan menariknya ke jalan yang salah, Wada sempat hilang arah.
Tapi cinta kepada ibunya membawanya pulang.
Ia memilih merawat sang ibu di kampung...
Belajar memijit kaki, menyeduh teh, dan menjaga - tanpa tahu sampai kapan.
Namun ini baru permulaan.
Wada belum tahu bahwa hidup masih menyimpan ujian lebih berat:
narkoba, penjara, kehilangan... dan penyesalan yang terlambat dipahami.
> Cerita ini bukan fiksi.
Setiap bagian ditulis berdasarkan kisah nyata dari kehidupan seorang remaja bernama Muhammad Wada.
Kisah ini ditulis dengan izin, dan untuk mengenang perjuangan yang tidak semua orang pahami tepat waktu.
© 2025 C.Azman.P - Semua hak cipta dilindungi undang-undang.