Nyolea
Field of Green berangkat dari kalimat yang terdengar seperti janji, padahal sejatinya perpisahan: "Let's meet in the field of green." Sebuah tempat yang tak pernah benar-benar ada-di mana seseorang bisa dicintai tanpa dimiliki, dan dirindukan tanpa pernah digapai. Bagi Gavrilla, kalimat itu menjelma menjadi harapan yang ia rawat diam-diam, meski setiap hari ia tahu: yang ia tunggu hanyalah mimpi yang terlalu hijau untuk nyata.
Di antara hubungan yang tak pernah sederhana, Devan memilih pelarian, Janetta hadir dengan kebenaran yang menyisakan luka, sementara orang-orang di sekeliling Gavrilla saling terikat dalam salah paham, ego, dan rasa takut kehilangan. Tak ada yang benar-benar jahat, tak ada pula yang sepenuhnya tulus. Semua hanya manusia-mencintai dengan cara yang salah, bertahan dengan melukai, dan pergi tanpa benar-benar pergi. Hingga akhirnya, field of green bukan lagi tempat bertemu, melainkan ruang sunyi tempat Gavrilla memahami satu hal: beberapa orang memang ditakdirkan hanya untuk diimpikan, bukan dimiliki.