Bayusaidwriter's Reading List
2 stories
KAMAR MARWAH RUANG UNTUK BERSYUKUR by Bayusaidwriter
Bayusaidwriter
  • WpView
    Reads 21
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 4
Kamar Marwah adalah ruang sederhana, sunyi, dan sering kali terasa sempit. Namun, justru di dalam kamar itulah seorang perempuan muda menemukan dirinya kembali. Berawal dari luka yang dalam kehilangan, kesepian, dan pertanyaan tanpa jawaban ia menjadikan kamar itu tempat persembunyian sekaligus cermin jiwa. Dinding-dindingnya menjadi saksi air mata yang tak terhitung, doa-doa yang tertahan, serta pertanyaan getir yang kerap ia tujukan pada langit: "Mengapa harus aku?" Namun perlahan, di balik sunyi, cahaya mulai menyapa. Pertemuan dengan harapan, hadirnya sahabat setia, dan ketenangan yang ia temukan dalam ibadah membuat hatinya kembali berdenyut. Luka yang dulu terasa mematikan, kini justru menjadi guru yang mengajarkan arti ketabahan. Di Kamar Marwah, ia belajar menata hati: menerima kehilangan, berdamai dengan masa lalu, menuliskan rasa sebagai terapi, hingga menemukan makna ikhlas yang sejati. Dari ruang sempit itu pula, ia menemukan kembali makna terbesar dalam hidup: bersyukur. Bersyukur dalam bahagia, bersyukur dalam luka, bersyukur dalam setiap napas yang masih Allah beri. Hingga akhirnya, ia sadar bahwa hidup bukanlah tentang menghindari rasa sakit, melainkan tentang menjadikannya jalan menuju kedewasaan iman. Kamar Marwah Ruang untuk Bersyukur adalah sebuah perjalanan jiwa tentang luka, harapan, doa, dan syukur. Sebuah kisah yang mengingatkan bahwa betapapun gelap ruang hati, cahaya Allah selalu ada untuk menyapa.
DARI LUKA MENJADI CAHAYA ( Telah Terbit ) by Bayusaidwriter
Bayusaidwriter
  • WpView
    Reads 25
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 3
Namanya Rega. Dulu ia pernah jatuh cinta sedalam dalamnya pada seorang wanita bernama Salma. Dan seperti banyak kisah cinta yang tak selesai, Rega ditolak. Bukan karena ia tak cukup baik, hanya karena Salma memilih yang lain. Alasan sederhana, tapi cukup untuk merobohkan seluruh kepercayaan diri yang telah ia bangun. Sejak saat itu, Rega berubah. Ia menarik diri dari keramaian, menjauh dari percakapan tentang cinta, dan menutup pintu harapan dengan kunci kesendirian. Penolakan itu menyakitkan. Tapi Rega tidak marah pada Salma. Ia hanya kecewa pada ekspektasinya sendiri. 3 tahun berlalu. Dunia masih berjalan normal, dan luka perlahan mengering dan tidak pernah ketemu Salma. Rega kini tinggal di kota pinggiran sugai, ia di terima bekerja sebagai Direktur Creatif Desainer Grafis. Ia tak lagi mengejar cinta, melainkan mengejar versi terbaik dari dirinya sendiri. Setiap pagi ia bangun pukul lima, berjalan kaki menyusuri taman kota sampit, lalu membuat kopi sendiri sambil membaca buku. Hidupnya sederhana, tapi damai. Suatu hari, saat menghadiri pameran karya seni lokal salah satu museum budaya, ia dipertemukan kembali dengan Salma.