sonnetoflotus
Kemenangan di Kurukshetra tak ubahnya hanyalah mahkota yang terbuat dari abu dan darah kerabat. Bagi Prativindhya, tragedi malam kedelapan-belas itu tidak pernah benar-benar berakhir; ia kini dihantui insomnia, ketakutan akan kehilangan sisa saudara-saudaranya, dan rasa bersalah karena masih hidup disaat saudaranya yang lain tidak. Sang Putra Mahkota harus membantu memikul sisa-sisa kerajaan yang retak dan beban yang kian terasa berat. Ia tak butuh puji-pujian, ia sebenarnya hanya butuh tenang. Namun, politik istana justru memberinya 'hadiah' dalam wujud Rajkumari Sonali dari Koshala, gadis muda yang terpenjara oleh ramalan suci sebagai pembawa keberuntungan untuk siapapun yang memandang dan menikahinya, sang putri dikirim ke Hastinapura sebagai uluran tangan persahabatan dan perdamaian dari Ayodhyanaresh Barhinaman.
Namun, di balik kecantikan yang nyaris tanpa cela itu, Sonali hanyalah seorang gadis biasa yang telah jemu diperlakukan bak dewi. Ia sebenarnya tak membutuhkan pujian atau syair-syair indah, pertukaran pikiran yang jujur jauh lebih menarik baginya, tapi ia tetap mempertahankan topengnya agar orang tuanya senang. Maka ketika harapan kedua keluarga mempertemukan mereka dalam pernikahan politik yang tak sepenuhnya dikehendaki, Prativindhya sudah bersiap menyambut gadis manis dan pasif seperti yang ia bayangkan. Namun Sonali jauh dari perkiraannya. Untuk pertama kalinya, ia menemukan seorang wanita membuatnya merasa benar-benar sepadan.
Bersama kesembilan saudaranya, para Upapandawa dan Pandawanandini yang perlahan kembali merangkai tawa, romansa, dan asa di tengah duka-Prativindhya dan Sonali belajar memimpin generasi baru ini untuk sembuh dan menjadi lebih baik.
Karena pada dasarnya ia pikir, kedamaian sejati tidak hanya diturunkan dari langit oleh para Dewa, melainkan harus juga dibangun oleh tangan-tangan berdarah manusia yang penuh harap dan duka. Bersama, mereka menyongsong sebuah fajar yang baru untuk Dinasti Kuru.
sonnetoflotus © 2026.