projecka
Kimberly-Kirey, tidak memiliki kemampuan mendengar sedari kecil. Ia hidup dengan kesunyian abadi selama bertahun-tahun, satu-satunya hal yang menemaninya sedari kecil adalah gerakan tangan dan gerakan bibir yang senantiasa menemani kesunyian abadinya.
Semuanya berubah di Surakarta.
Di desa yang tenang, pagi hari yang menyambut dengan suasana yang nyaman.
Ia tidak lagi merasakan kesepian. Dengan telinga barunya, ia mulai mendengarkan suara yang akhirnya tidak menyakitinya. Pagi hari ia terbangun dengan tepukan pelan seseorang di bahunya, neneknya yang paling ia sayangi, Saras.
Satu tahun tak terasa, sekarang ia sudah kelas empat, sembilan tahun. Dengan satu teman, walaupun hanya satu, keberadaannya sudah cukup untuk menghangatkan hati Kirey. Tapi temannya tidak selamanya hanya satu kan?
Sabtu pagi pukul 08.00, Kirey keluar rumah untuk memetik bunga di taman seperti biasa. Saras memang selalu menyuruhnya keluar rumah di pagi hari, ia selalu mengatakan bahwa udaranya sehat, apalagi tamannya juga tidak jauh. Biasanya, Saras akan menemaninya ke taman, tetapi hari ini ia tidak bisa. Saras sudah menyuruhnya untuk tetap tinggal di rumah, namun Kirey tetap setia pada pendiriannya.
Sayangnya, pagi itu tidak berjalan mulus, ia bertemu dengan tiga anak itu lagi. Tidak, ia tidak kalah. Seseorang datang, menyelamatkannya bak pahlawan, setidaknya itu pikir Kirey pada seseorang tersebut. Regie.
Pertemuan yang tidak disengaja, namun berefek besar sampai seterusnya. Teman kedua, dan teman selamanya.
PERINGATAN‼️
Cerita ini murni fiksi, dan jika ada kesamaan, itu hanya kebetulan. Berisi unsur perubahan gender, dibuatnya cerita ini bukan untuk merendahkan pihak-pihak yang ada dalam cerita ini. Cerita berisi kekerasan dan kata-kata kasar. Kepada para pembaca, mohon bijak dalam memilah hal baik dan buruk dalam cerita.
©projecka