louvieta_
- LECTURAS 3,825
- Votos 532
- Partes 17
Pernikahan seharusnya menjadi janji suci di hadapan Tuhan, bukan sekadar pelunasan hutang janji atau paksaan keadaan. Namun, itulah garis hidup yang harus dijalani Himeka Avyanna Lunara. Di usianya yang ke-27, dunianya runtuh saat ia dipaksa berdiri di pelaminan menggantikan sang adik yang tewas secara tragis beberapa hari sebelum hari bahagia itu tiba.
Lawan bicaranya adalah Abian Nayaka Sambara, perempuan yang tiga tahun lebih muda dan hampir tidak pernah ia kenali.
"Bian, aku akan jujur sejak awal." ucap Avyanna dingin. "Jangan pernah menggantungkan ekspektasi apa pun padaku. Tidak akan ada ruang untuk cinta di pernikahan ini."
Abian menatapnya tenang, ada kedewasaan yang tidak terduga di matanya. "Kak, aku sedang belajar mencintaimu. Tapi jika hatimu tetap terkunci, aku tak akan memaksa. Hari di mana kamu ingin pergi, aku akan melepaskanmu."
Akankah keheningan di antara mereka berubah menjadi simfoni, atau justru berakhir sebagai elegi yang hancur karena ketiadaan rasa?.