🌖
5 stories
KATARINA II by Qinyuna
Qinyuna
  • WpView
    Reads 975
  • WpVote
    Votes 272
  • WpPart
    Parts 16
[Story 4] Copyright © 2026 Rita Diya Ayu. All Rights Reserved Katarina Olieve Ajiwidjaja Tunggadewi, gadis yang baru saja menginjak usia remaja, ia merasa hidupnya jauh lebih tenang setelah kedua orangtuanya memutuskan untuk kembali bersama setelah hampir sepuluh tahun berpisah. Karina menikmati hari-harinya dengan damai. Namun, suatu ketika, papanya diminta Eyang untuk kembali ke desa Waru Kemuning untuk mengurus sesuatu di sana. Karina diam-diam ikut papanya pergi ke kampung halaman dengan cara menyelinap di dalam bagasi mobil. Lantas apa yang akan terjadi selanjutnya? Rank 🥇🥈🥉 #1 aestethic 04/03/26
After It's All Over [End] by Qinyuna
Qinyuna
  • WpView
    Reads 8,496
  • WpVote
    Votes 5,192
  • WpPart
    Parts 54
[Story 3] Copyright © 2025 Rita Diya Ayu. All Rights Reserved. Rio Dewangga hanya ingin hidup setenang air danau musim panas. Tenang, dan damai. Tapi itu tak semudah yang ia harapkan. Keseharian yang ia jalani jauh dari apa yang ia harapkan. Lebih-lebih, saat ia masuk ke sebuah tim basket, hidupnya menjadi penuh hiruk-pikuk konflik. Apakah Rio bisa mencari ketenangan di tengah rasa lelahnya? Entahlah, lihat saja. Highest Rank 🥇🥈🥉 #1 basket 26/11/25 #1 pilihanmu 18/12/25 #1 buku 27/01/26 #2 rekomendasi 04/02/26 #1 perasaan 06/02/26
KATARINA [End] by Qinyuna
Qinyuna
  • WpView
    Reads 9,320
  • WpVote
    Votes 6,277
  • WpPart
    Parts 24
[Story 2] #KatarinaUniverse1 Copyright © 2025 Rita Diya Ayu. All Rights Reserved Namaku Katarina, atau bisa juga dipanggil Karina. Usiaku tiga belas tahun. Dari namaku saja, sudah jelas aku anak perempuan, bukan? Iya, aku anak perempuan, tunggal. Aku hidup berdua saja dengan Mama, tidak ada Papa. Mama bekerja di kantor kejaksaan. Aku tak begitu tahu jabatannya, mungkin karena aku tak pernah benar-benar bertanya. Yang kutahu, Mama jarang pulang tepat waktu. Dulu, waktu aku masih kecil, aku sering menangis. Tangisku memecah sunyi rumah saat Mama tak kunjung pulang. Bibi yang bekerja di rumahku selalu berlari terpogoh pogoh saat mendengar tangisanku. Dia selalu berkata "Aduh, Karin. Jangan nangis, sayang. Nanti cantiknya hilang, lho." Begitulah caranya menghiburku, dan itu selalu berhasil membuatku berhenti menangis. Lambat laun aku mulai terbiasa, aku tidak lagi menangis saat mama tidak ada di sisiku. Aku jadi suka menyendiri. Aku tak suka keramaian, bising membuatku pusing. Orang-orang bilang aku introvert. Aku cuma tersenyum setiap kali mereka menyebut kata itu. Introvert? Hanya karena aku menyukai ketenangan? Mereka salah. Aku bukan seseorang yang takut bergaul atau menutup diri dari dunia. Aku bersosialisasi dengan baik, punya teman, tahu cara tertawa. Hanya saja, ada bagian dari diriku yang tak bisa dimengerti orang lain. Karena aku ... sedikit berbeda. Aku bisa melihat apa yang tak bisa orang lain lihat. Aku bisa merasakan kehadiran yang tak terlihat. Aku bisa menyentuh mereka yang seharusnya tidak ada. Roh. Arwah. Mereka yang sudah pergi, tapi belum benar-benar hilang.