blackcurrantbery
- Reads 6,241
- Votes 880
- Parts 21
Senja turun di rumah yang tak pernah benar-benar sunyi. Vano baru menutup laptop ketika aroma jahe dan madu dari dapur mendahului munculnya Alfa.
"Udah minum obat, kak?" suara lembut Alfa terdengar.
Vano tersenyum tipis. "Belum. Nanti aja, bang "
Alfa meletakkan cangkir, uapnya naik tipis. "Jangan telat makan. Kakak sejak tadi pegang laptop terus." Ia berdiri di belakang, memijat bahu Vano perlahan.
Dari lorong terdengar suara lain. "Capek, kak?" Gema muncul, menempelkan pipinya ke lengan Vano, tangannya perlahan menyelip ke pinggang kakaknya. Tekanan pertama lembut, selanjutnya lebih dalam. Vano diam tak berkomentar, hanya mengencangkan rahang.
Alfa menghentikan pijatan. "Gema, kamu belum makan?"
"Sudah," jawab Gema, wajah kosong, tangannya masih di pinggang Vano. Bibirnya mendekat ke telinga kakaknya, lirih, "...jangan terlalu dekat sama Alfa, kak....:
".....nanti aku cemburu."
Alfa tak mendengar, tapi melihat garis tipis di alis Vano menegang. Ia pergi ke dapur, dan cengkeraman Gema berubah, menarik Vano sedikit.
"Kakak ngerti kan?"
Vano menatap hangat. "Iya."
Gema tersenyum miring, tangannya naik ke pipi Vano, lalu mengecup pipi Vano lembut tapi terasa seperti menandai kepemilikan. " Kalau ngerti, jangan buat aku cemburu," bisiknya.