mochiwzayy
- Reads 17,237
- Votes 507
- Parts 27
"Bang Aska, kalau lahirnya aku ke dunia ini adalah kesalahan besar buat Abang, sekarang aku kembalikan napas ini ke Tuhan."
Sepanjang hidupnya, Rayhan-atau yang hanya bisa pasrah dipanggil Eyan-tidak pernah tahu bagaimana rasanya dipeluk hangat oleh keluarga. Bagi Ayah dan Bunda, Eyan adalah pembawa sial, titik hitam yang mencoreng nama baik mereka. Ia dikucilkan, dianggap asing, dan diperlakukan lebih rendah dari seorang pelayan di rumahnya sendiri.
Namun, luka paling dalam justru ditorehkan oleh Bagaskara. Aska, abang kandung yang seharusnya menjadi pelindung, justru menjelma menjadi iblis pembuat provokasi. Di depan Ayah dan Bunda, Aska selalu memasang topeng anak berbakti sambil menjatuhkan Eyan lewat fitnah dan jebakan kejam. Baginya, melihat Eyan menderita adalah sebuah kepuasan.
Eyan mencoba bertahan. Ia menelan semua makian, memeluk luka fisiknya sendirian, dan terus mengemis sedikit saja waktu untuk didengar. Hingga pada suatu malam, di batas akhir kekuatannya yang telah hancur lebur, Eyan menatap Aska untuk terakhir kalinya dengan senyum paling lelah.
Napas itu berhenti. Eyan benar-benar menyerah pada takdirnya.
Ketika tubuh ringkih itu terbujur kaku, benteng ego Ayah, Bunda, dan Aska runtuh seketika. Penyesalan yang teramat terlambat datang menghantam, menyisakan tangis histeris di atas pusara anak yang selama ini mereka sia-siakan.