Ichi-ne
- Reads 912
- Votes 19
- Parts 20
Chang Xia tiba di Keluarga Pei sebagai calon menantu kecil (童养媳)*.
Ia makan kenyang, berpakaian hangat, dan yang terpenting: ia belajar merawat "Tuan Muda"-nya yang baru berusia lima tahun, Pei Yao.
Pei Yao yang berusia lima tahun itu sudah tidak memakai celana dengan lubang untuk buang air lagi. Ia mengangkat dagu tembamnya, menatap Chang Xia yang sedikit lebih tinggi darinya, lalu mengerucutkan bibir-jelas tidak senang.
Apa itu 'suami'? Apa itu 'calon menantu kecil'?
Dia sama sekali tidak paham. Yang ia inginkan hanyalah bermain.
Chang Xia tidak bisa mengendalikan Pei Yao. Meski tiga tahun lebih tua, anak itu seolah memiliki tenaga kerbau-lari ke sana, melompat ke sini, ditarik pun tidak mau berhenti. Saat Chang Xia frustrasi sampai menangis dan pulang mengadu pada Ayah-nya, ternyata Ayah-nya malah memukul Pei Yao. Sejak saat itu, Pei Yao semakin tidak menyukainya.
Chang Xia sadar dirinya lamban dan kurang pandai bicara. Ia tahu Pei Yao tidak menyukainya. Namun, karena Keluarga Pei telah membelinya, inilah rumahnya sekarang. Selain merawat Pei Yao sebagai calon suami kecil, ia juga harus bekerja keras mengurusi sawah dan kebun sayur. Ia hanya berharap setiap tahun membawa cuaca baik dan panen melimpah.
Pei Yao, meski masih kecil, sudah punya selera tinggi: ia menyukai orang dan benda yang indah. Mulutnya manis, pandai memanggil "Kakak", "Adik", "Kakak Perempuan", "Adik Laki-laki". Tubuhnya yang putih dan tembam pun membuatnya sangat disukai orang.
Saat berusia tiga belas atau empat belas tahun, tubuhnya mulai memanjang-kaki jenjang, lengan panjang, berubah menjadi pemuda tampan yang memesona.
Sementara Chang Xia? Ia hanya tahu bekerja keras. Tahun demi tahun, tangannya menjadi kasar, wajahnya tidak cukup lincah atau cantik, dan yang paling menyakitkan: ia masih tidak disukai Pei Yao.
Ayah Pei memperhatikan semua ini. Ia sadar, jodoh tidak bisa dipaksakan. Kebetulan keluarga mereka sudah mulai memiliki tabungan. Lebih baik masing-masing mencari pasangan sendi