K_Sena08
"Selama Abang ada di sini, kalian nggak akan pernah kelaparan."
Itu janji Reno. Satu dari sekian banyak janji yang menggema di langit-langit rumah kos bergaya retro Belanda itu. Bagi Arka, Reno, Julian, Kevan, Gavin, Ezra, dan Zio, rumah itu bukan sekadar bangunan tua, melainkan dermaga bagi tujuh pemuda dengan mimpi yang berbeda-beda.
Hari-hari mereka penuh dengan tawa receh tentang kaos kaki bebek yang hilang, skincare yang dicuri, debat rasa mint choco yang tak ada ujungnya, Hingga tugas yang menumpuk . Mereka merasa abadi dalam kebahagiaan.
Namun, dunia hanyalah tempat persinggahan yang fana.
Ketika gemuruh itu datang dan beton-beton kokoh berubah menjadi reruntuhan sesak, janji-janji itu diuji. Di bawah sisa-sisa reruntuhan, mereka belajar satu hal yang paling menyakitkan sekaligus indah: bahwa mencintai Allah secara ugal-ugalan bukan berarti dijauhkan dari air mata, melainkan ditemukan-Nya kita dalam ridho yang paling dalam.
Bisakah mereka menemukan 'Cahaya' itu saat harapan mulai habis tertutup debu? Ataukah kepulangan memang satu-satunya jalan untuk mencintai-Nya tanpa sekat?
__________
"Maybe we are not blood relatives... Tapi, aku harap kita bisa bareng gini trus selamanya. Bukan cuma di dunia, tapi juga sampai surga-Nya"
*Sebuah tragedi yang mengingatkan manusia, bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah kefanaan, bukan keabadian.*