CandyBlisss
- Reads 248
- Votes 41
- Parts 11
Rumah itu tidak pernah benar-benar sunyi. Pagi hari selalu dimulai dengan denting sendok yang beradu, depan langkah yang terburu, dan suara Elena yaitu Sang Ibu yang memanggil nama anak-anaknya satu per satu-meski sering kali ada satu nama yang tertinggal di ujung lidah. Di ujung meja, Mahendra yaitu Sang Ayah adalah hakim yang tak banyak bicara, cukup dengan sebuah anggukan kecil untuk sebuah prestasi, atau keheningan dingin untuk sebuah kegagalan.
Enam anak tumbuh di sana. Enam nyawa yang belajar mencintai dengan cara yang berbeda.
Sagara belajar bahwa menjadi sulung adalah menjadi menjadi tiang yang tak boleh goyah. Racha belajar bahwa kemarahan adalah satu-satunya cara agar ia tidak dianggap tiada. Yoel belajar menukar identitas demi sepotong rasa aman. Reichi belajar bahwa kasih sayang hanyalah upah dari angka di atas kertas. Dan Sachiel, si bungsu, belajar bahwa kesedihan adalah sebuah pengkhianatan terhafap kebahagiaan keluarga.
Lalu ada Jeandra.
Jeandra tidak belajar apa-apa, selain cara untuk menghilang. Ia adalah dekorasi yang bernapas-ada, namun tak dianggap nyata. Ia hafal setiap nada kesedihan saudara-saudaranya, namun tak satu pun dari mereka yang mengenali frekuensi sakitnya.
Rumah itu tak jahat, ia hanya terlalu sibuk memuja kesempurnaan sampai lupa bahwa di salah satu sudut kamarnya, ada detak jantung yang perlahan lenyap.
Sebab, apa gunanya sebuah rumah besar yang megah, jika ia baru belajar mendengar justru saat suara itu tak lagi bisa menjawab ?