NonaLebah
- Reads 501
- Votes 99
- Parts 28
Ini adalah kisah cinta di tengah badai Perang Dunia II, dimana musuh paling berbahaya bukanlah peluru, melainkan rasa cinta pada musuhmu sendiri
"Jax..."
"Hmmm... Apa?" tanya Jax, tanpa menoleh, masih fokus mengamati nyala api kecil yang membuktikan keampuhan lensanya.
Keheningan yang menyusul terlalu lama. Jax akhirnya menoleh. Midori tidak melihat apinya. Dia menatap Jax, wajah cantiknya dalam bayangan sore, ekspresinya serius dan penuh dengan pertanyaan yang telah lama dipendam. Mata coklatnya yang jernih itu memancarkan kerapuhan yang jarang ia tunjukkan.
"Apa setelah kita keluar dari pulau ini... kita akan berpisah?"
Pertanyaan itu melayang di udara hangat senja, sederhana namun dahsyat seperti ledakan yang tertahan. Suara debur ombak seakan mereda. Kicauan burung terdengar jauh.
"Aku tidak tahu, Nona Jepang," ujar Jax, akhirnya memecah kebisuan yang menyiksa. Panggilan lama itu terasa asing dan tajam di lidahnya sekarang, seperti mengingatkan mereka pada identitas asli yang bermusuhan. "Tapi terus terjebak di pulau ini jelas bukan pilihan yang baik." Ucapannya terdengar datar, pragmatis, menghindari inti pertanyaan. Dia memberikan fakta, bukan jawaban.
Midori mengangguk pelan. Ekspresi di wajahnya yang cantik sulit dibaca-apakah itu penerimaan, kekecewaan, atau keduanya. Dia tidak mendesak lebih lanjut.
***
James "Jax" Jackson adalah pilot Amerika yang hidupnya hancur setelah kehilangan tunangannya akibat serangan balon api Jepang. Baginya, setiap prajurit Kekaisaran Jepang adalah iblis yang harus dibasmi. Namun, takdir memiliki skenario yang kejam.
Pesawatnya jatuh di pulau terpencil di Pasifik, dan satu-satunya orang yang bisa menyelamatkannya adalah Dr. Midori Kobayashi-seorang ilmuwan jenius dari Unit 731 yang ikut terdampar dipulau itu.
Dia membawa koper berisi 'Strain Hikari', senjata biologis paling mematikan yang pernah diciptakan manusia.