Ahsann___
Bagi Erina Calista Pradana, Ramadan tahun ini seharusnya menjadi pembuktian bahwa ia bisa menjadi mahasiswi kedokteran yang sempurna sekaligus pengurus masjid yang disiplin. Namun, rencana itu berantakan sejak hari pertama karena satu variabel acak yang tidak pernah bisa ia kendalikan: Narendra Danuarta Pratama.
Naren adalah definisi dari segala hal yang dibenci Erina. Dia selengean, kemejanya jarang disetrika, dan hobi merusak jadwal piket takjil Erina yang sudah tersusun rapi hanya dengan satu senyuman miring yang menyebalkan. Sebagai anak sulung yang biasa melindungi, Naren punya hobi baru: memancing emosi Erina, si bungsu yang selalu berusaha terlihat tangguh agar tidak dianggap remeh.
Selama 30 hari, komplek perumahan mereka berubah menjadi medan tempur antara Sistem Kaku Erina dan Cara Santai Naren. Mulai dari debat kusir soal efisiensi kupon kolak, insiden mukena tersangkut saat tarawih, hingga momen-momen sunyi saat sahur di teras rumah yang hanya terpisah oleh satu pagar besi.
Namun, di balik suara takbir yang mulai terdengar di kejauhan, Erina menyadari satu hal yang tidak tertulis di buku anatominya. Naren yang selama ini ia anggap biang kerok, ternyata adalah orang pertama yang menyadari kapan Erina merasa lelah. Dan Naren, si jenius yang senang bersembunyi di balik tawa, mulai lelah berpura-pura tidak peduli.
Di ambang hari kemenangan, mereka dipaksa memilih: tetap bertahan di balik benteng gengsi masing-masing, atau meruntuhkannya demi kembali ke fitrah-bahwa hati yang paling keras sekalipun, tetap butuh tempat untuk pulang.