ynslv_
- Reads 4,225
- Votes 562
- Parts 39
Kekaisaran Utara tidak pernah mengenal belas kasihan, begitu pula dengan penguasanya, Duke TeeTee. Bagi wilayah selatan yang kalah perang, pria itu adalah perwujudan dari badai salju yang mematikan dingin, tak tersentuh, dan menghancurkan apa saja yang dilewatinya.
Por tak tahu hari ini akan tiba. Hari di mana ia harus menanggalkan mahkota pangerannya, meninggalkan kehangatan tanah kelahirannya, dan melangkah masuk ke dalam wilayah yang membeku sebagai sebuah jaminan perang. Sebuah sandera politik yang nasibnya ditentukan oleh selembar kertas perjanjian.
Namun, Por tidak pernah menduga bahwa takdir yang menantinya di Kastil Serigala jauh lebih menyesakkan daripada sekadar jeruji besi.
Di bawah tatapan mata elang TeeTee, Por tidak diperlakukan sebagai tawanan yang disiksa di ruang bawah tanah. Sebaliknya, ia ditempatkan di kamar terluas, dibalut sutra terbaik, dan dipenuhi segala kemewahan. Sebuah sangkar emas yang dibangun khusus oleh sang Duke untuk satu tujuan: mengunci eksistensi Por dari dunia luar.
"Kamu adalah milikku, Por," bisik suara berat itu, bergema di antara keheningan kamar yang megah. "Seluruh duniamu sudah runtuh di selatan. Dan di utara yang membeku ini, akulah satu-satunya tempatmu bernapas."
Bagi TeeTee, ini adalah kepemilikan mutlak. Sebuah obsesi gelap yang menuntut kepatuhan total dari barang berharganya.
Bagi Por, ini adalah perang batin yang melelahkan. Di satu sisi, gengsi dan akal sehatnya berteriak untuk membenci pria yang telah merenggut kebebasannya. Namun di sisi lain, setiap sentuhan protektif, amarah cemburu yang meledak demi melindunginya, dan tatapan mata yang pekat itu perlahan mulai menumbuhkan benih perasaan asing yang menakutkan.
Ini bukan sekadar cerita tentang tawanan dan penculiknya. Ini adalah kisah tentang dua jiwa yang tersesat di antara dinding es utara terjebak di antara benci yang mendalam, gengsi yang menjulang, dan belenggu obsesi yang perlahan menjelma menjadi debaran yang tak bisa mereka hindari.