Aishtherea
Zhou Anxin selalu menganggap kakaknya, Lee Sangwon, sebagai satu-satunya jangkar keselamatannya setelah bertahun-tahun mereka bertahan hidup dari siksaan ayah mereka yang kejam. Namun, kedamaian semu itu retak saat Anxin mulai menyadari perubahan mengerikan pada diri Sangwon tatapan mata yang tiba-tiba kosong, suara yang berubah dingin, dan perilaku yang tidak lagi ia kenali. Puncaknya terjadi di sebuah gang gelap, ketika Anxin melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana sosok lain di dalam tubuh Sangwon membantai seorang pria dengan kebrutalan yang melampaui batas manusia. Di saat itulah Anxin sadar: Sangwon yang dulu selalu melindunginya dari pukulan ayah mereka kini telah hancur, dan sekarang adalah gilirannya untuk menjadi tameng bagi sang kakak.
Demi menutupi jejak Sangwon, Anxin dengan sengaja menyerahkan diri, menggenggam senjata pembunuh itu, dan membiarkan dirinya diseret ke penjara. Namun, neraka baru menantinya di balik jeruji besi. Kehadiran Anxin yang rapuh namun memiliki keteguhan mata yang ganjil menarik perhatian Kim Geonwoo, seorang penguasa penjara yang memiliki obsesi sakit terhadap "keindahan yang hancur."
Geonwoo tidak menunjukkan ketertarikannya dengan cara biasa. Ia memainkan permainan kucing dan tikus yang keji; ia memerintahkan narapidana lain untuk memukuli dan mencoba melecehkan Anxin, hanya untuk melihat sejauh mana martir muda itu bisa bertahan sebelum ia memohon perlindungan pada Geonwoo. Namun, Geonwoo meremehkan satu hal: Anxin telah ditempa oleh api sejak kecil. Di tengah ancaman fisik dan pelecehan yang terus mengintai, Anxin selalu berhasil menghindar dengan cara yang misterius, seolah-olah ia memiliki insting bertahan hidup yang jauh lebih tajam dari penampilannya. Di balik tembok penjara, Anxin berjuang mempertahankan kewarasannya, tanpa tahu bahwa di luar sana, Sangwon sedang bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya demi menjemputnya.