arselamahesa
- Reads 296
- Votes 40
- Parts 10
Di tengah hangatnya keluarga besar berisi tujuh bersaudara, sebuah ujian berat datang menimpa Halilintar. Sang sulung mengalami kecelakaan yang membuatnya menderita amnesia sementara. Meski ingatannya belum pulih sepenuhnya, Hali tetap berusaha menjalani hari-harinya sebagai seorang pelajar seperti biasa. Namun, ketenangannya terusik saat mendengar kabar bahwa adiknya, Taufan, menjadi korban perundungan di sekolah. Naluri seorang kakak langsung menggerakkannya; Hali bergegas menghampiri Taufan dan membawanya ke UKS untuk mengobati luka-lukanya.
Demi membantu menopang kebutuhan adik-adiknya, Hali dan sahabatnya, Rio, memutuskan untuk bekerja paruh waktu sepulang sekolah. Rio memilih bekerja di area perkantoran, sementara Hali memilih menjadi pelayan di sebuah kafe. Beban ganda sebagai siswa sekaligus tulang punggung perlahan mulai menguras energinya.
"Abang akan selalu menjaga kalian dan berusaha membuat kalian bahagia. Tapi, jika suatu saat Abang lelah dengan semua ujian ini... Abang izin untuk pergi. Bukan pergi sebentar, melainkan untuk selamanya. Kalian harus kuat, karena tidak ada yang tahu kapan takdir kita akan menjemput. Maaf jika Abang membuat kalian sedih, dan maaf karena belum bisa menjadi kakak yang sempurna. Berjanjilah untuk sukses saat besar nanti, jangan terlarut dalam kesedihan, dan belajarlah untuk ikhlas. Terima kasih sudah menjadi adik-adik kebanggaan Abang." - Halilintar.
Kalimat penuh kepasrahan itu menjadi titik balik yang krusial. Ini adalah awal mula ingatan Hali yang sempat hilang perlahan-lahan kembali, sekaligus momen di mana sang sulung mulai merasa benar-benar lelah oleh beratnya tanggung jawab yang ia pikul sendirian.