hellow22
- Прочтений 1,070
- Голосов 139
- Частей 7
Di mata dunia, dia memiliki segalanya: kemuliaan, tahta, dan kehormatan yang tak tertandingi. Namun di mata Aksaranata Langit Dewangga Ragasuma Mahasura, semuanya tak ada artinya dibanding nilai kemanusiaan yang diajunjung tinggi.
Sebagai Putra Mahkota Keraton Amartapura, hidupnya seharusnya dijalani dalam kemegahan dan aturan adat yang kaku. Nyatanya? Aksaranata lebih memilih menyusuri jalanan ibukota sebagai pengemudi ojek daring, atau memimpin kelompok motor yang justru menjadi andalan aparat negara dalam melayani masyarakat. Didasari didikan orang tua dan kakek-neneknya yang luar biasa, baginya kedudukan hanyalah gelar, namun akhlak adalah kemuliaan yang sesungguhnya.
Takdir mempertemukannya dengan seorang wanita cantik, terkenal, dan tampak sempurna di mata siapa saja-anak dari pasangan pejabat tinggi yang menjadi panutan keharmonisan seantero negeri.
Pertemuan mereka bermula dari permintaan sederhana di tengah malam yang kelam "Temani aku sebentar saja..."
Sejak saat itu, hati Aksaranata tertaut sepenuhnya. Ia tak memedulikan usia yang lebih muda atau tua, tak memikirkan pandangan orang, dan sama sekali tak peduli pada apa yang dianggap sebagai aib atau kekurangan oleh dunia. Baginya, wanita itulah jiwa yang dicarinya, yang memiliki keteguhan dan kejujuran jauh melebihi siapa pun.
Namun, cinta mereka tak semudah menggenggam tangan. Hubungan antara calon Raja dan wanita yang dianggap "bercela" itu menjadi kontroversi besar, mengadukan keempat pilar kehidupan: agama, negara, adat, dan tahta. Saat seluruh dunia menentang, Aksaranata justru makin teguh berdiri.
Baginya, mencintai dan menikahi wanita itu bukan sekedar urusan hati. Melainkan bentuk pembelaan terhadap kebenaran, upaya meluruskan yang dianggap bengkok, dan memberikan ikatan suci yang sah, halal, serta abadi-sesuatu yang mungkin belum pernah dimiliki wanita itu seumur hidupnya.