suffmdra
Di kota tua Pasuruan, di mana aroma petis dan tembakau bercampur dengan angin laut dari Selat Madura, hiduplah seorang pelukis muda bernama Bara. Tangannya adalah kanvas yang menangkap setiap nuansa senja; setiap hari, ia duduk di Pelabuhan Tua Pasuruan yang sepi, di antara kapal-kapal nelayan yang tertambat, mengabadikan matahari yang tenggelam di atas air. Senja adalah dunianya, dan Pasuruan adalah penjara sekaligus studionya.
Suatu sore, saat ia sedang menyelesaikan lukisan yang ia sebut "Luka di Ujung Cakrawala," sebuah tawa renyah menyentak konsentrasinya. Di sampingnya, berdiri seorang gadis yang memegang kamera tua, lensa tertutup debu, tapi matanya berbinar seperti bintang pertama malam.
Dia adalah Elara.