chentz99
- Reads 6,819
- Votes 718
- Parts 22
Tian tidak pernah percaya pada takdir.
Sebagai CEO muda Lei Group yang berdarah dingin dan tak tersentuh, ia terbiasa mengendalikan segalanya dengan logika absolut. Hidupnya adalah sebuah mahakarya yang rapi, terstruktur, dan tanpa celah. Baginya, emosi adalah variabel tidak rasional yang hanya akan merusak strategi bisnisnya
Sampai Ziyu menyusup masuk ke dalam dunianya.
Ziyu adalah perwujudan dari semua hal yang Tian hindari. Pemuda itu cerewet, ceria, menggemaskan tanpa sadar, dan memiliki pesona yang terlalu berbahaya untuk sekadar dianggap "biasa". Ia seperti matahari kecil yang berisik-datang dan langsung mengacaukan ritme hidup Tian yang kaku, mengikis dinding esnya, hingga memaksa sang CEO merasakan sebuah debaran asing yang belum pernah ia beri nama.
Tian membenci kebisingan. Namun anehnya, keheningan mewah yang dulu ia agungkan, kini mendadak terasa hampa setiap kali suara Ziyu tidak ada di sana.
Di antara sekat profesionalisme yang mulai mengabur, tatapan mata yang bertahan terlalu lama, dan proteksi kecil yang tumbuh secara ugal-ugalan... apakah semua ini hanya kebetulan korporat? Ataukah sejak awal, semesta memang sudah mengunci nama mereka dalam satu garis lurus yang sama?
Ketika batas antara atasan dan bawahan mulai runtuh, Tian dipaksa menghadapi satu kenyataan pahit: Orang yang paling peka adalah orang yang paling berbahaya. Karena dia bisa melihat celah terkecil yang selama ini kamu sembunyikan dari dunia.
Sebab terkadang, takdir tidak datang dengan tanda-tanda megah. Ia datang dalam bentuk seseorang yang perlahan... menjadi tempatmu untuk pulang.
"Tugasmu adalah menjadi sekretaris saya. Bukan menentukan siapa yang pantas berada di sisi saya. Karena siapa yang berada di samping saya, tidak ditentukan oleh status... melainkan perasaan." - Tian.