serrra000313
Bagi Davian, kelas 12 adalah medan perang. Sebagai murid pindahan di tahun terakhir, ia tidak punya kemewahan untuk bermain-main. Teman, organisasi, apalagi cinta, hanyalah gangguan yang ia coret dari daftar prioritasnya.
Sampai ia bertemu Ayara-gadis yang membuat buku pelajarannya mendadak kehilangan logika.
Gadis itu bukan sekadar pintar; ia adalah anomali yang cerah di tengah dunianya yang monokrom. Di antara tumpukan latihan soal dan ambisi yang menyesakkan, di tengah hitung mundur menuju kelulusan, Davian menyadari bahwa saat ia sibuk mengejar masa depan, Ayara adalah alasan mengapa ia ingin menghargai masa sekarang.