Aqmalfikrii
Enam sahabat menghabiskan satu sore di sudut-sudut tua Kayu Tangan, Malang.
tertawa, bercanda, dan diam-diam menahan rasa takut akan waktu yang terus berjalan. Di antara aroma hujan, lagu yang pelan, dan roti manis yang dibagi bersama, mereka menyadari satu hal: tidak semua perpisahan datang dengan tangisan. Kadang, ia hanya hadir lewat tawa yang perlahan meredup saat senja turun.
Sore itu mungkin telah usai, tapi kenangan mereka belum selesai.