TioPrina's Reading List
3 stories
Serial Bu Kek Siansu (Manusia Setengah Dewa) - Asmaraman S. Kho Ping Hoo by JadeLiong
JadeLiong
  • WpView
    Reads 825,695
  • WpVote
    Votes 9,125
  • WpPart
    Parts 140
Bu Kek Siansu adalah sebuah karakter khayalan hasil karya Kho Ping Hoo, dan merupakan serial bersambung terpanjang terbaik di samping seri Pedang Kayu Harum (Siang Bhok Kiam). Ia dikisahkan pada masa kecilnya disebut Anak Ajaib (Sin Tong) karena dalam usianya yang amat muda telah memiliki kepandaian dalam mengobati berbagai penyakit. Kebiasaannya menjemur diri di sinar matahari pagi dan di bawah terangnya bulan purnama, menguatkan tulang dan membersihkan darahnya sehingga menarik minat kaum datuk persilatan untuk mengangkatnya menjadi murid. Perebutan atas diri bocah ajaib yang bernama Kwa Sin Liong, anak tunggal dari Keluarga Kwa di kota Kun-Leng, akhirnya dimenangkan oleh Pangeran Han Ti Ong. Seorang sakti keturunan raja yang bertempat tinggal di sebuah tempat yang mendekati dongeng di laut utara, yang dikenal di kalangan kangouw (sungai-telaga) dengan nama Pulau Es yang konon Istana yang ada di pulau es terdapat banyak sekali kitab-kitab sakti.. Kelak Kwa Sin Liong menjadi pewaris Pulau Es, setelah kerajaan yang dipimpin Han Ti Ong musnah disapu banjir besar (tsunami?). Dia kemudian disebut-sebut sebagai manusia dewa. Dia punya kebiasaan menurunkan satu jenis ilmu silat setiap awal musim semi. Ilmu yang didapat Kam Bu Song (Suling Emas) bersumber darinya. Namun secara resmi Bu Kek Siansu hanya mempunyai tiga orang murid, yakni Kam Han Ki, Maya dan Khu Siauw Bwee. Nama Bu kek Sian Su terakhir kali muncul di dunia Kangouw pada kisah "Istana Pulau Es" Cerita silat Serial Bu Kek Siansu diawali dengan episode Bu Kek Siansu pada pagi yang indah di dalam hutan di lereng Pegunungan Jeng Hoa San (Gunung Seribu Bunga). Terjadi perebutan seorang anak ajaib Sin Tong oleh beberpa tokoh persilatan yang sangat terkenal namun ditolong oleh Raja Istana Pulau Es dan menjadi muridnya yang kelak menjadi manusia setengah dewa ... Cerita ini berlangsung hampir seribu tahun dan berakhir pada episode ke 17 yaitu seri Pusaka Pulau Es.
Surya Kala by Dipatrenggono
Dipatrenggono
  • WpView
    Reads 384
  • WpVote
    Votes 122
  • WpPart
    Parts 60
Karya Original dari Dipa trenggono. mengisahkan dua perjalanan yang bergerak sejajar dalam rentang waktu berbeda, namun perlahan mengarah pada satu muara yang sama. Di satu jalur, Luki dan Pura menempuh pengembaraan sunyi menelusuri jejak retakan waktu, sebuah peristiwa ganjil yang meninggalkan bekas pada tanah, ingatan, dan sejarah manusia. Setiap langkah membawa mereka pada serpihan masa lalu yang tidak sepenuhnya mati dan masa depan yang belum benar-benar lahir. Mereka tidak mencari keajaiban, melainkan jawaban. Namun semakin dalam penyelidikan dilakukan, semakin jelas bahwa retakan itu bukan sekadar luka alam, melainkan akibat pilihan manusia pada masa silam. Di jalur lain, Naraseta melangkah sebagai penuntun bagi seorang pemuda bernama Iswarayana. Tanpa gegap gempita dan tanpa janji kemuliaan, Iswarayana diperkenalkan pada dunia persilatan yang keras, penuh siasat, dan sarat konsekuensi. Naraseta tidak mengajari jalan pintas, hanya menunjukkan cara berdiri tegak saat pilihan menjadi sempit. Setiap pertemuan, setiap pertarungan, membentuk Iswarayana sedikit demi sedikit, bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai manusia yang harus memikul akibat dari langkahnya sendiri. Dua garis waktu ini berjalan terpisah, namun diikat oleh satu tujuan yang sama: menutup lingkaran sebab dan akibat yang telah lama dibiarkan terbuka. Ketika masa lalu menuntut pertanggungjawaban dan masa kini dipaksa memilih arah, pertemuan keduanya menjadi keniscayaan. Sebuah kisah perjalanan, tentang bimbingan dan pencarian, tentang waktu yang retak dan manusia yang mencoba memperbaikinya, meski harus membayar dengan harga yang tidak ringan.
Yama - Kelam Yang Disambut by Dipatrenggono
Dipatrenggono
  • WpView
    Reads 324
  • WpVote
    Votes 82
  • WpPart
    Parts 19
YAMA Jogja, 1983. Kota masih menyimpan bayangan. Di sudut-sudut Pajeksan yang basah oleh sunyi dan darah tak tercatat, seorang lelaki tanpa jubah muncul dari lorong gelap-membawa tas ransel, jaket lusuh, dan tatapan yang tak bisa dibaca. Namanya Arno. Dulu preman jalanan. Sekarang... bukan siapa-siapa. Tapi sejak retakan dimensi tertutup empat tahun lalu, ia tak lagi sendiri. Sesuatu dari dunia lain hidup dalam bayangannya-entitas purba dari planet tanpa cahaya. Ia tidak bisa pulang. Dan Arno... tak bisa lepas. Kini, dengan kekuatan menembus bayangan dan tubuh sekeras besi, Arno menjadi alat keadilan yang tak punya aturan. Menghukum tanpa ampun, memburu yang tersembunyi, dan meninggalkan jejak bisu: sebuah nama, tergores di dinding bata... YAMA. Ia bukan pahlawan. Ia bukan iblis. Ia adalah bayangan yang tidak bisa dibunuh.