e_rosdyfi
- Reads 4,391
- Votes 883
- Parts 17
Mereka bilang, tidak semua pernikahan dimulai dengan cinta.
Camila Reveltone tidak pernah membayangkan... bahwa pernikahannya bahkan tidak dimulai dengan perasaan apa pun.
Tidak cinta.
Tidak benci.
Bahkan tidak dianggap ada.
Malam itu, aula megah keluarga Aguilar dipenuhi cahaya kristal dan bisikan halus orang-orang berkelas. Semua terlihat sempurna-gaun putih yang jatuh anggun di tubuhnya, senyum yang dipaksakan, dan cincin yang terasa terlalu dingin di jari manisnya.
Camila berdiri di samping pria yang akan menjadi suaminya.
Aurelian Aguilar.
Dan pria itu... bahkan tidak menoleh padanya.
"Jangan terlalu berharap," suara itu datang pelan, dingin, seolah hanya untuknya.
Bukan dari Aurelian.
Camila menoleh.
Di sana-sedikit jauh dari keramaian, bersandar santai dengan segelas minuman di tangan-sepasang mata gelap menatapnya tanpa ragu.
Valerian Aguilar
Adik dari pria di sampingnya.
Tatapannya tidak sopan. Tidak hangat. Tapi juga... bukan kosong seperti milik Aurelian.
Tatapan itu seperti sedang membaca sesuatu.
Atau... menginginkan sesuatu.
"Apa maksudmu?" tanya Camila, suaranya cukup tenang meski jantungnya mulai berdetak tidak wajar.
Valerian tersenyum tipis. Bukan senyum ramah. Lebih seperti rahasia.
"Kakakku tidak pernah menginginkan ini," ujarnya.
"Dan kamu... tidak terlihat seperti seseorang yang akan bertahan lama di dunia kami."
Kalimat itu seharusnya menyakitkan.
Tapi anehnya-yang membuat Camila sulit bernapas bukanlah kata-katanya.
Melainkan cara Valerian menatapnya setelah itu.
Seolah-olah...
dia adalah satu-satunya orang di ruangan itu yang benar-benar melihatnya.
Untuk pertama kalinya malam itu, Camila merasa... ada yang salah.