edgar_zergan
Delapan belas tahun bukan usia yang mudah untuk diatur-setidaknya begitulah yang selalu diyakini Hifdzi. Di sekolah, ia hanyalah siswa kelas akhir SMA yang terkenal karena kenakalannya. Namun di luar gerbang sekolah, namanya jauh lebih disegani. Ia adalah ketua geng motor yang hidup dengan aturan buatannya sendiri, menganggap kebebasan lebih berharga daripada nasihat siapa pun.
Sayangnya, tidak semua orang sependapat dengannya.
Terlahir di tengah keluarga yang taat beragama, Hifdzi tumbuh di bawah didikan orang tua yang tak pernah berhenti berharap anak mereka bisa berubah. Hingga suatu hari, sang ayah mengambil keputusan yang mengubah segalanya: setelah lulus SMA, Hifdzi harus melanjutkan pendidikan di sebuah pesantren.
Hifdzi menolak tanpa ragu. Baginya, pesantren adalah tempat yang akan merenggut seluruh hidup yang selama ini ia bangun. Namun, ayahnya tidak memberinya pilihan. Jika tetap menolak, ia tidak akan diizinkan melanjutkan sekolah dan tidak akan mendapat dukungan ataupun uang sepeser pun dari keluarga.
Dengan amarah yang terus membara, Hifdzi akhirnya melangkahkan kaki ke pesantren bukan karena keinginan sendiri, melainkan karena terpaksa. Ia bertekad bertahan tanpa sedikit pun mengubah siapa dirinya.
Namun, hari-hari di pesantren perlahan membuktikan bahwa hidup tidak sesederhana hitam dan putih. Di balik aturan yang ketat, ia menemukan persahabatan yang tulus, pelajaran tentang kehilangan dan pengampunan, serta orang-orang yang melihat sisi dirinya yang bahkan tak pernah ia sadari.
Sebuah novel remaja tentang keluarga, persahabatan, keberanian, dan perjalanan menemukan jati diri. Karena terkadang, jalan yang paling tidak kita inginkan justru menjadi awal dari kehidupan yang selama ini kita butuhkan.