reinrn
Bagi Jingga Buana Ambara, rumah adalah tanggung jawab yang tidak pernah mengenal kata libur. Sebagai anak kedua sekaligus "tuan rumah" sementara Akasha -si sulung-berjuang di tanah rantau, Jingga harus menyeimbangkan antara tumpukan skripsi dan peran sebagai ayah sekaligus ibu bagi kelima adik laki-lakinya.
Ada Hilen si mahasiswa sastra yang rajin membantu, Sora si pengatur keuangan yang teliti, Legenda yang memiliki empati paling dalam, hingga duo pengacau suasana, Orion dan Anan, yang memastikan rumah tidak pernah kering dari tawa. Meski mereka hidup dalam bayang-bayang ditinggalkan oleh kedua orang tua tanpa alasan yang jelas, ketujuh bersaudara ini menolak untuk hancur.
Kehidupan mereka adalah ritme yang sederhana: tentang jadwal menjadi imam masjid di kampung, tentang bungkusan nasi plastik yang dibawa pulang saat lelah melanda, dan tentang bisikan-bisikan pengertian di antara mereka saat salah satu sedang rapuh.
Namun, ketika beban hidup semakin berat dan masa lalu orang tua mereka mulai mengetuk pintu, sanggupkah Jingga menjaga pondasi rumah itu agar tetap berdiri tegak? Ataukah warna jingga yang hangat itu akan memudar ditelan malam?
"Kita tidak butuh alasan mengapa mereka pergi, kita hanya butuh alasan mengapa kita harus tetap bersama."