staikogane
"Rumah adalah tempat di mana tehmu selalu hangat, dan Kak Hali selalu ada di sana."
Bagi Ice, kebahagiaan itu sederhana. Cukup dengan aroma pembersih lantai jeruk di ruang tengah, suara kunci yang berputar di pukul tujuh malam, dan kehadiran Halilintar yang selalu membawa tenang di tengah badai bernama kehidupan.
Meski jarang bicara, Ice tahu selama Hali ada, dunia akan baik-baik saja.
Bagi Halilintar, Ice adalah pelabuhannya. Sesibuk apa pun urusan kampus, sesengit apa pun perdebatan dengan teman-temannya, ia selalu ingin pulang. Ia ingin melihat adiknya yang hobi tidur itu meringkuk di sofa, menunggunya dengan secangkir teh melati yang uapnya masih menari-nari.
Malam itu, orang tua mereka pergi ke Pulau Rintis. Rumah terasa lebih luas, namun tetap hangat. Ice berjanji akan menyiapkan teh terbaik, dan Hali berjanji akan pulang tepat waktu setelah urusan singkat di kafe dekat kampus.
Hanya satu malam. Satu malam untuk mereka saling merindukan. Satu malam untuk membuktikan betapa kuatnya ikatan persaudaraan mereka.
Namun, di antara riuh rendah tawa di kafe dan ponsel yang sengaja dijauhkan, Hali lupa satu hal... Hening tidak selalu berarti aman.
Hali pulang dengan senyum tipis, membayangkan wajah tenang adiknya. Namun, saat pintu depan terbuka, bukan aroma melati yang menyambutnya. Teh di meja kopi memang masih ada. Namun uapnya sudah hilang, sedingin raga yang kini mematung di ambang pintu.
===
Boboiboy belongs to Monsta
This is a fanfiction written by Staikogane