astantea
- Reads 14,687
- Votes 1,851
- Parts 105
Dia datang bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai api.
Bukan untuk menghangatkan, melainkan untuk menguji seberapa jauh aku berani terbakar. Aku tahu sejak awal bahwa mencintainya tidak akan mudah.
Dia seperti malam yang terlalu indah untuk dilewati, tapi terlalu dingin untuk ditinggali lama-lama. Ada sesuatu di matanya - tenang tapi berbahaya, seolah menyimpan seluruh badai yang berusaha tampak tak tersentuh. Dan mungkin, itulah yang membuatku bertahan.
Dia menantangku tanpa kata.
Setiap gerakannya seolah berkata: "Lihat, berapa lama kau bisa tetap kuat sebelum meleleh bersamaku?" Aku menyentuhnya, bukan karena ingin diselamatkan, tapi karena ingin membuktikan bahwa aku bisa berdiri di samping apinya - bukan di bawahnya.
Kami saling menghancurkan dengan cara yang elegan: melalui diam, tatapan, dan ketulusan yang terlalu keras kepala untuk diakui.
Tak ada yang menyerah. Tak ada yang menang.
Kami hanya terbakar, perlahan, dalam ritme yang sama. Dan ketika akhirnya aku sadar dunia di sekitar kami mulai runtuh, aku tidak takut. Karena api di antara kami bukan untuk membinasakan.
Ia ada untuk mengingatkan - bahwa cinta tidak harus menelan untuk bisa menyala. Apakah aku siap untuk tetap terbakar bersamanya-tanpa terbakar olehnya?