The_Renjana27
Di balik jubah kesalehan, ada amarah yang mengundang iblis untuk bertahta."
Bagi Aisyah Amirah, rumah adalah sebuah panggung sandiwara. Di luar, ayahnya, Ustadz Mansyur, adalah sosok ulama yang dihormati dan dipuja karena tutur katanya yang sejuk. Namun di balik pintu yang terkunci, rumah mereka adalah medan perang. Aisyah harus menyaksikan ibunya, Ummi Aminah, tenggelam dalam kesabaran yang menyakitkan, menutupi lebam dengan jilbab, dan membalas makian dengan doa yang terputus.
Malam sebelum Aisyah pergi merantau untuk kuliah, sebuah insiden pecahnya tasbih milik ibunya memicu kemarahan sang Ayah yang luar biasa. Di saat itulah, Arumi melihatnya untuk pertama kali: The Red Mist (Dukhan Al-Ghadab)-kabut merah berbau besi karat yang keluar dari sela-sela lantai, seolah lahir dari uap kebencian yang selama ini terpendam.
Aisyah mengira pelariannya ke kota Palopo akan membawa ketenangan. Namun, kabut itu justru mengikutinya seperti bayangan. Teror mulai merayap di lorong-lorong kampus yang sepi dan merambat hingga ke pesantren tempat adiknya, Ahmad Zikri menuntut ilmu. Zikri yang trauma mulai kehilangan iman dan tanpa sengaja mengundang entitas dalam kabut itu untuk menjadi "pelindungnya".
Kini, Aisyah menyadari bahwa Kabut Merah itu adalah Jin Dasim-sang perusak rumah tangga yang telah bermetamorfosis menjadi monster fisik akibat kemunafikan ayahnya. Saat ibunya mulai kehilangan akal sehat dan adiknya terjebak dalam ritual gelap di pesantren, Aisyah harus memilih: menyingkap topeng kesalehan ayahnya di depan publik untuk menghentikan kutukan tersebut, atau membiarkan keluarganya hancur dan tertelan dalam asap merah yang menuntut tumbal nyawa.
Dapatkah Aisyah melantunkan ayat suci untuk mengusir kabut itu, jika hatinya sendiri masih dipenuhi dendam pada sang Ayah?
"Sujud takkan sampai ke langit, jika di dalam rumah kau menjadi iblis".