NandyaTrias2
- Reads 2,995
- Votes 456
- Parts 39
Sebuah cerita tentang pertemuan yang pelan, rasa yang tumbuh diam-diam, dan keberanian membuka hati setelah terlalu lama sendiri.
Kadang, orang yang terlihat paling kuat adalah mereka yang paling sering belajar berdamai dengan luka.
Arunika memilih berjalan sendiri-bukan karena tak butuh siapa pun, tapi karena hidup mengajarkannya untuk bertahan tanpa bergantung. Di antara jadwal kuliah, pekerjaan, dan mimpi-mimpi yang ia susun diam-diam, Aruni hanya ingin satu hal: hidup untuk dirinya sendiri.
Lalu Arsa datang.
Dengan caranya yang tenang, protektif, dan terlalu tulus untuk sekadar disebut kebetulan. Arsa tidak berjanji menyembuhkan, ia hanya memilih tinggal. Menjadi rumah tanpa memaksa. Menjadi aman tanpa bertanya berlebihan.
Kalimat itu menghantam Arsa lebih keras dari yang ia kira. Dadanya terasa diremas.
"Lo... keren banget," ucapnya tulus. "Kalo gue jadi lo, mungkin gue udah kabur ke ujung dunia. Itu pasti berat banget. Dan lo masih bisa bertahan... itu udah level keajaiban dunia sih."
Tangannya refleks mengelus rambut Aruni, penuh rasa bangga.
"Hahahaha Kak Arsa, please stop asbun," jawab Aruni sambil tertawa kecil.
"Lo lucu banget kalo ketawa, matanya ilang." Balas Arsa
"Ih Kak Arsa tuh ya," kata Aruni sambil mencubit lengan Arsa pelan.
"Aruni, lo nggak boleh ngerasa sendirian lagi," katanya mantap. "Ada gue, ada sahabat-sahabat lo. Lo bisa anggap kita keluarga. Apa pun itu, lo bisa cerita ke gue. Gue bisa keep apapun yang mau lo ceritain ke gue, kalo lo mau."
Aruni terdiam. Dadanya hangat, matanya sedikit berkaca.
"Kak... makasih ya. Udah mau jadi temen aku. Aku kira Kakak galak, ternyata asik juga," katanya sambil tertawa kecil.
[WARNING]⚠️
Berisi kata-kata yang tidak untuk ditiru
Membaca yang bijak ya!
Cover by : Edit Canva