Lutiya
Hari ini, nabastala tuhan begitu indah, sayangnya teramatlah aksa karya yang dibuatnya, hingga tiada asa aku dapat meraihnya.
Ku kira hanya dimasa aku berdiri sekarang, ternyata aku salah, setiap detakan denyut nadi, pada saat matahari memproses fotosintesis, bahkan hingga membran sel tidak berfungsi lagi, dia tetap menawan, tidak berubah, bahkan bertambah. tetapi sama saja, aku tidak dapat lagi menggenggamnya.
"ju" ucap Renkae dengan suara lirih hingga hampir tidak terdengar. Jhuya menyadari ada hal yang ingin di bicarakan dan ia menjawab pelan "kenapa?"
dua pasang mata memuja pemandangan di depannya. Cahaya senja menguning cerah, rumput basah meninggalkan aroma sebab hujan turun sebelumnya.
"kalau chico mati apa kamu akan beli yang baru?" hening sejenak, empat mata yang masih terpatung pada keindahan karya tuhan di depannya.
"apa kamu tau bahwa raga yang sama tetap memiliki jiwa yang berbeda?" tanya Jhuya balik
Renkae menjawab "ya, kutau. aku nemu kata-kata itu di quotes ig"
angguk jhuya.
"tapi kan kamu menyukai penyu, apa tidak masalah kamu ga pelihara lagi?" sambung Renkae. mendengar itu Jhuya menoleh ke arahnya, kedua insan sejenak saling menatap, dua detik mengalihkan dan fokus lagi menikmati cahaya sore.
"sebab aku menyukainya, aku tidak akan memiliki jiwa yang lain" jawab jhuya.
___________________
(cerita murni karya author)
(just enjoy reading)