keysukamatcha
Tarung Laksamana selalu berjalan seperti bayangan yang menahan badai.
Diam, tajam, dan terlalu dewasa untuk usianya. Di sekolah, ia dikenal sebagai siswa yang tidak suka bersuara, tapi tutur geraknya menyimpan ketelitian aneh-seolah setiap langkah sudah dipetakan seperti dalam ilmu bela diri yang hanya ia pahami sendiri.
Di rumah, Tarung hidup dengan satu tujuan sederhana: menjaga Bundanya.
Sosok rapuh yang pernah kehilangan terlalu banyak. Dari bundanya, Tarung belajar anatomi sederhana-titik-titik tubuh yang menjadi pusat keseimbangan manusia. Dari ayahnya, sebelum wafat, ia mewarisi pencak silat dan Krav Maga, diajarkan secara sembunyi-sembunyi seperti rahasia keluarga yang tak boleh menyentuh cahaya.
Tarung tumbuh dengan dua warisan itu:
satu untuk melindungi,
satu untuk melukai,
dan keduanya selalu bertarung dalam dirinya.
Namun hidup mulai berubah ketika Bu Ratri-guru bahasa yang hangat dan penuh kasih-datang ke sekolah itu.
Ia melihat sesuatu yang tak dilihat orang lain: tulisan-tulisan Tarung yang ditumpuk diam dalam buku catatan lusuh. Dengan bahasa seorang pendidik, ia menyebutnya potensi literasi emosional. Dengan hati seorang ibu, ia melihatnya sebagai panggilan minta tolong.
Melalui bimbingan kecilnya-sesi refleksi, tugas menulis naratif, hingga percakapan pendek sepulang sekolah-Bu Ratri perlahan membuka pintu yang bertahun-tahun Tarung kunci rapat. Ia mengajarkan Tarung bahwa kata-kata pun bisa menjadi ruang aman, bukan hanya jurang yang menelan.
Bersama Bundanya yang penuh kasih dan Bu Ratri yang tekun membimbing, Tarung perlahan menyingkap kebenaran tentang keluarganya-tentang malam yang merenggut ayahnya, dan tentang trauma yang selama ini ia kira hanya miliknya seorang diri.
Ini bukan sekadar kisah remaja yang bertarung dengan kekerasan di luar dirinya.
Ini kisah tentang bertarung dengan diri sendiri-
dengan luka yang diwariskan,
dengan ingatan yang memburuk,
dan dengan dunia yang menyuruhnya memilih:
menjadi senjata, atau menjadi manusia.