ashavenoo
- Reads 619
- Votes 97
- Parts 16
Semua orang menyukai cara Shayn yang tidak banyak bicara, tidak pernah merepotkan siapapun. Mereka menyebut Shayn sebagai ketenangan. Padahal, tidak ada yang benar-benar tenang di dalam dirinya.
Di dalam kepalanya, suara-suara itu tidak pernah berhenti. Datang tanpa diundang, tinggal tanpa izin, dan berbicara tanpa henti. Tidak ada jeda maupun istirahat.
Tatapan Shayn selalu terlihat tenang, setenang mata air di kaki bukit yang tak terusik angin. Namun di balik ketenangan itu, ada riuh yang tak pernah benar-benar reda-lebih berisik daripada ombak laut yang bergesekan dengan pasir pantai.
Namun, tidak ada yang tahu. Karena Shayn terlalu pandai menyembunyikannya.
Shayn menganggap diam adalah satu-satunya tempat paling aman yang dia kenal. Shayn bukan sungai yang tahu arah pulang ke laut, ia tidak memiliki tujuan, ia hanya terus berjalan. Karena berhenti terasa lebih menakutkan.
Jika seseorang bertanya "Apakah kau baik-baik saja, Shayn?" Shayn akan mengangguk, selalu mengangguk. Karena menurut Shayn, cara terbaik untuk bercerita adalah dengan diam.
Sementara Haven, ia tidak pernah diajarkan bagaimana cara meminta maaf. Bukan karena ia tidak pernah berbuat salah, tapi karena di tempat ia tumbuh, kesalahan bukan sesuatu yang perlu diperbaiki, hanya perlu ditanggung sendirian.
Sejak kecil Haven sudah terbiasa dengan suara yang tidak pernah benar-benar pelan. Bukan suara tawa, bukan juga suara yang menenangkan. Lebih seperti benturan, nada tinggi yang tidak pernah selesai. Dan kata-kata yang terasa lebih tajam daripada pisau.
Semua kata yang ia miliki selalu tertahan di tenggorokan, tidak pernah cukup aman untuk di keluarkan.
Pada akhirnya, Haven belajar satu hal. Diam jauh lebih mudah. Tidak menimbulkan masalah, tidak memperpanjang luka, atau membuat siapapun pergi. Setidaknya itu yang ia yakini.
Sayangnya, mereka dipertemukan di dunia yang sama. Terlihat baik-baik saja di luar, namun menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh
1june2026 : #3 enhypen