HarianRyan
Malam itu nasib mengetuk pintu kamar kos Ramadhan bukan sebagai tamu, tapi sebagai teror yang berwajah bidadari. Ranita datang membawa perintah, bukan cinta. Ia menyodorkan sebuah rencana gila untuk meledakkan pesta pernikahan, dan Ramadhan, mahasiswa kaku yang seumur hidupnya hanya berkawan dengan mesin, menerimanya tanpa banyak tanya. Ia terseret. Ia mabuk oleh ilusi bahwa dirinya penting, bahwa ia adalah pahlawan yang dipilih. Padahal, di tangan perempuan itu, ia tak lebih dari sekrup kecil yang sedang diputar paksa untuk melenyapkan kebahagiaan orang lain, sementara akal sehatnya sendiri pelan-pelan sedang diamputasi di tengah dinginnya Bandung yang menipu.