sanjayakenji
- LECTURAS 80
- Votos 0
- Partes 7
Nama gw Joshua Riel Pramana, orang-orang sering manggil nama gw Riel.
Gw merupakan mahasiswa informatika semester akhir yang hidupnya terbagi rapi-setidaknya menurut gw-ke dalam dua outfit dan mode hidup. Di hari biasa, gw bertahan dengan hoodie hitam, tas ransel berisi laptop dan kamera, mondar-mandir antara kampus, pelayanan gereja, dan kerja sebagai editor di salah satu agensi VTuber. Gw jarang muncul di depan layar sebagai VTuber independen, tapi gw memastikan karakter virtual orang lain terlihat hidup dan dicintai.
Sebagai femboy, gw malahan nyaman dengan diri gw sendiri, meski dunia sering ribut soal penampilan. Buat gw, cosplay cuma cara lain buat bernapas-sekali-kali hidup tanpa rem, tanpa penjelasan. Tapi di balik komedi keseharian, deadline pekerjaan maupun pelayanan, dan ditanya kapan gw mulai pendadaran, gw punya iman yang sederhana: melakukan yang terbaik, setia di hal kecil, dan berharap Tuhan ngerti isi hati gw meski hidup gw kadang berantakan.
Setelah itu, gw tiba-tiba mati.
Bukan seperti dramatis ala pahlawan. Bukan juga dengan pakaian yang gw pilih. Tetapi, gw terbaring tenang dalam peti mati kaca bening, mengenakan gaun putih yang cantik, sarung tangan rapi, buket bunga di tangan-seolah dunia memutuskan menutup hidup gw dengan estetika dan kecantikan gw yang terlalu niat. Hujan turun pelan di pemakaman. Payung-payung hitam berdiri berjajar. Doa-doa terdengar samar. Di belakang gw, sebuah batu nisan bersalib mematri nama gw, sementara hidup gw sendiri terasa seperti transisi fade out yang terlalu cepat.
Ironisnya, di momen tenang itu, gw akhirnya sadar: ini outfit terakhir gw yang tidak gw pilih.
Namun kematian bukan akhir dari segalanya. Melainkan menjadi loading screen menuju dunia lain-sebuah dunia isekai yang kacau, penuh sistem yang salah baca data, dan makhluk-makhluk yang gemar memberi label sebelum mendengar penjelasan.