Tatbunda
"Bisik halus di renung hati... Sungguh, aku mencintai bumi. Maka Laut, tolong kebumikan aku."
Utara hanyalah serpihan dari pahatan agung bernama Selatan. Mahakarya Sang Pencipta yang sempurna. Tapi dunia melihatnya sebagai gulma. Tak punya daya tarik, tak pantas disamakan, selalu berbeda. Orang-orang berlalu di depannya tanpa menoleh. Tanpa tahu siapa yang mereka lewati, siapa yang mereka lukai, dan siapa yang mereka abaikan.
"Oh, Bunda... Maafkan Utara karena menjadi aib keluarga." Isi pikirannya tiap ia melihat foto keluarga yang dibingkai dan dibiarkan berdebu di loteng rumah buruk rupa.
Ia bicara pada dunia seperti orang yang sudah di ujung tanduknya. Tangannya bergerak kaku, jemarinya dipaksa. Wajahnya datar, padahal dia cukup tampan. Tapi baginya semua sia-sia. Karena pada akhirnya, ia tetap tak pernah dianggap sama. Sampai matanya bertemu biru. Langit senja yang meleleh, gradasi toska dan jingga berpadu jadi satu di atas pasir berdebu. Rasanya seperti rumah satu-satunya yang mau menerimanya. Dan tanpa sadar, ia tenggelam terlalu dalam ke dalamnya.
#BisikTatbunda Cerita saya pahat dan tenun satu persatu secara mandiri, tanpa meniru karya orang lain. Bila pun ada kesamaan dalam urusan latar belakang, nama karakter, dialog, ataupun yang dirasa sama dengan cerita lain, mohon maaf. Itu hanya kebetulan yang tak sengaja saya lakukan sahaja.
Semua yang saya tulis bersifat belaka, jangan sambung pautkan dengan dunia nyata. Karena mereka dua dunia yang berbeda, layaknya Utara dan Selatan. Jadi tolong pengertiannya.
Ditulis, semasa Rabu, 3 Juni 2026.
Dan berakhir dalam ketidak tentuan waktu. Dalam kata lain, masih berlanjut hingga @Tatbunda menghendakinya berhenti.
#9 Cortis