Right Now
2 stories
Monodi by GaluhCahya8
GaluhCahya8
  • WpView
    Reads 24,532
  • WpVote
    Votes 4,719
  • WpPart
    Parts 68
Bukan salahku terlahir sebagai anggota keluarga duke sinting. Namun, semua orang tidak ragu melabeliku sebagai si jahat-sama seperti ayah dan kedua kakakku. Merekalah biang keladi, sumber segala masalah. Berkat mereka aku pun menerima tulah dan harus mencicipi pahitnya penghinaan. Prasangka telanjur mengakar pada benak setiap orang seperti tinta di kertas. Dewi menghadiahiku sembilan kesempatan kepadaku sebagai hadiah atas tindakan bijakku. Delapan kesempatan, delapan usaha, dan delapan kali aku mencicipi kematian. Tidak ada satu pun pengalaman dengan ajal meninggalkan kesan mendalam selain fakta bahwa ke mana pun aku pergi, maka mereka yang membenci keluargaku selalu datang memburu. Oleh karena itu, pada kesempatan nomor sembilan aku pun membulatkan tekad. Bila tidak bisa mengubah jalan cerita tragisku, maka akan kunikmati momen terakhirku dengan tidak melakukan apa pun. Dengan kata lain, aku ingin jadi pemalas. *** "Kau putriku! Jangan biarkan siapa pun merendahkanmu!" Ayahku mulai menyemangatiku menjadi anarkis dan arogan. "Katakan kepadaku! Siapa yang membuatmu sakit?!" Kakak-kakakku mendadak berubah haluan. Mereka tidak lagi membuat masalah di luar dan menargetkan diriku sebagai objek baru. "Lady, beritahu aku cara mengobatimu." Orang yang menjatuhi hukuman mati kepada diriku dan keluargaku mendadak memberiku perhatian. Mereka semua sinting! Aku hanya ingin jadi pemalas dan menyingkir dari permainan!
End of Yearning  by GaluhCahya8
GaluhCahya8
  • WpView
    Reads 2,970
  • WpVote
    Votes 602
  • WpPart
    Parts 13
Aku jatuh hati kepada seseorang. Bagiku dia segalanya; matahari, langit, duniaku.... Sekalipun selama ini dia tidak pernah memberiku respons apa pun, tapi hatiku bersikeras menahannya. Selama di akademi aku menyimpan semua perasaan itu, rahasia semanis gulali, untuk diriku seorang. Namun, siapa sangka begitu lulus dari akademi keluargaku menjodohkanku dengan cinta pertamaku? Saat itu rasanya semesta memberiku hadiah terhebat dan termanis. Akhirnya aku bisa bersama dengan orang yang paling aku cintai di dunia. Sekalipun pernikahan kami sekadar hitam di atas putih dan ia tak pernah membalas perasaanku, aku tetap menerima semuanya. Hingga suatu hari dia kembali dan membawa seorang perempuan jelita. Segalanya pun berubah. Senyum yang tak pernah kudapatkan kini terlukis di wajahnya, kata-kata lembut yang tidak pernah kudengar pun selalu terlontar dari bibirnya, dan sikapnya berbeda.... Sekuat tenaga aku berusaha bertahan, tetapi cinta pun ada batasnya. Luapan asmara pun kandas dan aku menyadarinya. Dia tidak pernah mencintaiku baik sebagai istri maupun teman hidup. Tak mungkin aku mempertahankan pernikahan. Cinta bertepuk sebelah tangan ini harus segera diakhiri. Bila dia tak berani mengambil langkah pertama, maka biarkan aku yang mendahuli. Surat perceraian. Aku menandatanganinya tanpa ragu dan menyerahkan semua barang pemberian lelaki itu. Tidak ada satu pun yang kuambil termasuk cincin pernikahan. Cinta pertama seindah apa pun pada akhirnya harus berakhir juga oleh realitas.