Bubuiaa10
Setelah satu tahun yang dipenuhi hampir-hampir menyerah, hampir pergi, hampir kehilangan diri sendiri-Davina tidak lagi berada di titik yang sama. Ia tahu rasanya bertahan. Ia tahu rasanya ragu. Dan yang lebih menakutkan, ia tahu bahwa cinta saja tidak selalu cukup.
Tahun kedua tidak dimulai dengan kembang api. Ia datang dengan lebih sunyi. Dengan rutinitas. Dengan kenyataan bahwa perasaan yang dulu berdebar kini harus diuji oleh jarak, ego, lelah, dan mimpi-mimpi yang mulai berjalan ke arah masing-masing.
Jika tahun pertama adalah tentang bertanya, "Apakah kita cukup?", maka tahun kedua adalah tentang, "Apakah kita masih memilih satu sama lain?"
Davina mulai menyadari bahwa mencintai seseorang berarti juga berhadapan dengan dirinya sendiri-dengan trauma yang belum sembuh, dengan standar yang berubah, dengan kebutuhan yang tak lagi bisa diabaikan. Ia belajar bahwa bertahan bukan selalu berarti kuat. Kadang bertahan hanya berarti takut memulai ulang.
Hubungan itu masih berjalan. Tapi kini mereka tidak hanya melawan salah paham kecil atau hari-hari buruk. Mereka berhadapan dengan realitas yang lebih dewasa. Perbedaan prioritas, waktu yang semakin sempit, dan pertanyaan tentang masa depan yang tak bisa lagi ditunda.
Ini bukan lagi kisah tentang "hampir".
Ini tentang pilihan.
Tentang dua orang yang sudah saling tahu celahnya, namun tetap mencoba berdiri berdampingan. Tentang mencintai tanpa kehilangan diri. Tentang belajar bahwa kepastian bukan sesuatu yang ditemukan, melainkan dibangun-pelan, kadang retak, kadang goyah.
Karena setelah 365 hari pertama, yang tersisa bukan hanya rasa.
Yang tersisa adalah keputusan.
Dan keputusan itu, setiap hari, harus diambil lagi.
-2026
Still Reading.