povelmerta
Aira dan Raka selalu berjalan berdampingan.
Bermain di halaman yang sama, tumbuh di jalan yang sama, hingga duduk di bangku kampus yang sama. Bagi Aira, kehadiran Raka adalah hal paling biasa,sahabat yang selalu ada, rumah yang tidak pernah pergi.
Hingga suatu hari, Aira mulai menyadari:
Raka bukan lagi sekadar kebiasaan.
Namun mencintai sahabat sendiri bukanlah perkara sederhana. Aira memilih diam, menyimpan perasaannya rapat-rapat, karena berharap berarti berisiko kehilangan. Ia mencintai dengan cara paling sunyi,menemani, mendengarkan, dan selalu berada di samping, tanpa pernah meminta untuk dipilih.
Ketika Raka perlahan berjalan ke arah hidupnya sendiri, Aira dihadapkan pada kenyataan pahit:
menjadi yang selalu ada tidak menjamin akan menjadi yang dipilih.