senosugarhoney
Isel pindah ke sekolah baru setelah hidupnya runtuh pelan-pelan.
Di tempat itu, nilai bukan yang paling penting.
Kekacauan dijadwalkan.
Luka dianggap pelajaran.
Murid-murid diajarkan untuk berteriak, marah, dan bercermin pada diri mereka sendiri-tanpa topeng.
Isel menolak mengakui bahwa ia terluka.
Ia yakin dirinya tidak gila.
Tapi di sekolah yang memperlakukan kekacauan sebagai metode,
siapa yang sebenarnya sakit: mereka yang berteriak,
atau Isel yang terus menyangkal?