KaitoSouta
- Reads 240
- Votes 109
- Parts 2
"Lepaskan aku..." suara Alice bergetar, tangannya meronta sekuat tenaga dari cengkeraman yang terlalu dingin, terlalu kuat. Nafasnya memburu, seolah udara di sekitarnya menolak untuk masuk ke paru-paru.
Namun Van tidak bergeming. Satu tangannya menahan pergelangan Alice, tangan satunya terulur ke wajahnya. Ujung jarinya kasar, dingin, saat ia mengangkat dagu Alice dengan paksa.
"Mengapa kau selalu mencoba lari dariku?" bisiknya pelan, nyaris lembut, tapi mengandung ancaman yang menusuk tulang.
Alice memejamkan mata, menolak menatap. Namun cengkeraman itu semakin menekan, membuatnya tak punya pilihan selain menatap ke dalam sepasang mata gelap yang menelannya bulat-bulat.
"Bukalah matamu," perintah Van lirih, seakan mantra. "Aku ingin kau lihat sendiri... bahwa satu-satunya tempatmu hanyalah di sisiku."
Air mata Alice jatuh. Dalam diam, ia tahu, protesnya tidak berarti apa-apa.
Sebab pria itu bukan sekadar ingin memilikinya, ia ingin menghapus seluruh dunia Alice, hingga yang tersisa hanyalah dirinya.
Dan pada malam itu, ia sadar : kebebasan hanyalah mimpi.