luxrin_
- Leituras 4,516
- Votos 614
- Capítulos 39
Di antara gemerlap lampu kristal menara megah milik keluarga Elion dan rintik hujan yang membasahi atap seng rumah Erine, terbentang jurang dunia yang begitu kontras. Elion adalah perwujudan dari kemewahan dan masa depan yang berkilau, sementara Erine hanyalah gadis sederhana yang terbiasa menyembunyikan jemarinya yang kasar karena bekerja keras.
Setiap kali mereka bertatapan, Erine selalu dirayapi rasa minder yang hebat. Baginya, berjalan di samping Elion terasa seperti bayang-bayang yang memaksakan diri bersanding dengan matahari.
Hingga pada suatu senja di sudut taman kota yang sepi, Erine tertunduk dan berbisik lirih, berusaha melepaskan genggaman tangan Elion. "Kita terlalu berbeda, Elion. Dunia kita tak akan pernah menyatu."
Elion menatap manik mata Erine dengan kehangatan yang mampu mencairkan segala keraguan. Ia menggenggam jemari Erine lebih erat, lalu berkata dengan suara selembut angin malam:
Cinta itu nggak pernah memandang kasta, Rin. Di mataku, kamu bukan tentang dari mana kamu berasal, tapi tentang ke mana hati ini ingin pulang. Jangan biarkan tembok yang dibuat manusia menghalangi rasa yang dititipkan semesta."